Usaha Mikro, Gotong Royong, dan Kebangkitan Indonesia

Apa yang membuat perekonomian negara Jepang besar ? apa yang membuat perekonomian negara Jerman maju ? apa sebenarnya yang menjadikan sebagian negara menjadi negara maju ? jawabannya adalah industri yang besar. Jepang sebagai pusat teknologi khususnya teknologi informasi , Jerman pusat industri otomotif, Amerika serikat yang juga mempunyai banyak industri besar dari berbagai bidang. Kita bisa menarik kesimpulan deduktif bahwa industri besar sangat mempengaruhi perekonomian suatu negara.

Kekuatan UMKM di Indonesia

Tetapi Indonesia unik, perekonomian Indonesia berbeda dengan kebanyakan negara lainnya. Bukanlah sejumlah industri-industri besar yang paling mempengaruhi tingkat perekonomian negeri ini. Perekonomian kita justru diukur langsung dari akarnya, bukan besar pohonnya. Perekonomian kita justru ditopang oleh usaha mikro .Industri-industri kecil di Indonesia-lah yang sangat berpengaruh terhadap perekonomian indonesia. Hal ini dikuatkan dengan data dari BPS yang menyebutkan bahwa UMKM Indonesia yang berjumlah 50-an juta menyumbang sekitar 54 % GDP.

Keunikan Indonesia tersebut justru memberikan nilai tersendiri bagi perekonomian Indonesia. Indonesia menjadi lebih tahan terhadap krisis ekonomi global. Walaupun masih kecil perekonomian indonesia terlihat solid, seperti tak terlalu bereaksi dengan krisis global. Bukannya tak terpengaruh, tapi setidaknya pengaruh krisis tak begitu terlihat di Indonesia. Misalnya saja masih banyak masyarakat yang tak mengetahui bahwa terjadi sebuah krisis ekonomi global yang besar pada tahun 2008 karena memang tidak begitu terlihat pengaruhnya.

Kita bisa analogikan perekonomian indonesia ini dengan pohon yang kuat dan kukuh, bahwa pohon yang kuat dan kukuh pasti akarnya juga kuat dan kukuh. Pohon yang dapat bertahan ketika badai menerjang sudah pasti mempunyai akar yang kuat,meskipun pohon itu kecil. Berbeda dengan pohon yang mempunyai akar yang lemah, tak peduli pohon itu besar atau kecil, kemungkinan besar pohon itu akan terbang dibawa badai, walaupun badai pasti berlalu.

Indonesia bukannya tidak mempunyai industri-industri besar. Ada beberapa industri besar di indonesia. Ada dalam bidang pertambangan, perminyakan, pangan, dan lain-lain. Tapi hal itu bukanlah hal utama dalam perekonomian Indonesia, juga bukan target utama dalam pengembangan ekonomi Indonesia. Indonesia adalah negara yang sangat luas dan juga mempunyai penduduk yang sangat besar. Jika dibandingkan dengan hal ini, maka peran industri-industri besar yang hanya segelintir tidak cukup untuk dijadikan sebagai andalan dalam perekonomian Indonesia.

Usaha Mikro di Indonesia adalah salah satu ujung tombak yang paling penting dalam perekonomian Indonesia. Usaha Mikro seperti JualToples di Indonesia begitu menjamur dimana-mana, mulai daerah yang terpencil sampai daerah perkotaan. Hingga akhir dekade ini jumlah, terlihat jumlah usaha mikro terus bertambah. Tidak hanya jumlahnya yang terus bertambah tetapi juga kekuatannya, sehingga usaha-usaha mikro ini tidak lagi dapat diremehkan. Hal-hal inilah yang mengantarkan kekuatan mikro sebagai penyumbang setengah dari kekuatan makro Indonesia.

Kekuatan Mikro menjadi ciri khas Indonesia. Hal ini tidaklah tejadi dengan sendirinya, juga bukanlah sesuatu hal yang baru. Sifat khas perekonomian Indonesia ini sebenarnya merupakan sifat dari perdaban Indonesia itu sendiri yang berjalan sejak dulu, yaitu gotong-royong. Gotong-royong yang mendarah daging di masyarakat Indonesia inilah yang secara otomatis mempengaruhi sifat perekonomian Indonesia.

Gotong Royong Membangung Perekonomian Indonesia

domino-163523_640

Gotong-royong adalah salah satu istilah asli Indonesia. Setiap pekerjaan selalu dikerjakan bersama-sama. Hingga sekarang pun hal yang kita pelajari di buku-buku SD ini masih dijunjung tinggi. Kita lihat bagaimana warga dalam satu RT atau RW berembuk menyelesaikan berbagai permasalahan, termasuk permasalahan dalam ekonomi dan pengangguran warganya. Ini merupakan sesuatu hal yang asing kita temukan di Negeri lainnya, disinilah kita patut berbangga.

Ada sebuah kata mutiara yang mengatakan bahwa kita adalah tipe bangsa pemakan rumput. Sebagai bangsa pemakan rumput kita maju bersama-sama, bahagia bersama, bergotong royong dalam berbisnis, tidak ada yang dizalimi. Sebagai bangsa pemakan rumput, Indonesia yang menjunjung tinggi kesamaan dan keadilan, berdiri sama tinggi duduk sama rendah.. Berbeda dengan bangsa barat yang pemakan daging. Saling ingin menang sendiri meskipun harus mengorbankan lawannya. saling memakan satu sama lain, individualis dan saling berkompetisi. Kapitalisme. Perbedaan inilah yang memberikan Indonesia keunikan sendiri dalam perekonomiannya. Indsutri besar bukan andalan utama. Justru kerjasama dalam antar bisnis mikro yang begitu intenslah yang mendukung perekonomian Indonesia sekarang ini.

Sebuah indikator menyebutkan bahwa prasyarat negara sejahtera adalah minimal 2% dari jumlah populasinya bergerak di bidang wirausaha. Artinya 2% ini ikut menanggung beban perekonomian negara. Berkat para pengusaha mikro yang terus berkembang ini, sekarang Indonesia telah mencapai angka 1,56% dari seluruh jumlah populasinya. Ini merupakan kabar gembira sekaligus tantangan tersendiri bagi Indonesia.

Wirausaha yang mulai mejamur di Indonesia tidak biasa. Sejalan dengan wirausaha yang terus tumbuh, komunitas-komunitas wirausaha lokal juga tumbuh. Indonesia kaya akan komunitas wirausaha. Komunitas wirausaha ini mempunyai bermacam-macam latar belakang, ada agama, ideologi, suku, budaya dan pergerakan. Komunitas inilah yang kemudian akan menciptakan sebuah kerjasama/gotongroyong dalam bisnis mereka. Para anggota komunitas tersebut menjalankan bisnis bersama, investasi bersama, menciptakan pasar bersama dan menghadapi tantangan bersama-sama. Tanpa mengesampingkan persaingan, justru menciptakan persaingan yang sehat. Semua hal ini menjadi salah-satu modal kemajuan Indonesia dalam menghadapi era liberalisasi pasar bersama-sama.

Tahun 2012 ini adalah awal dari kemajuan perekonomian Indonesia. Menurut data BI, tingkat inflasi di Indonesia pada april 2012 ini adalah 4,5%. Walaupun merupakan sebuah penurunan dari bulan sebelumnya, tingkat inflasi masih bisa dianggap stabil dan masih lebih rendah dibanding april tahun sebelumnya. Selain itu, menurut bps.go.id, ekonomi Indonesia pada bulan Februari 2012 tumbuh sebesar 6,3%. Data di atas menunjukan status positif bagi perekonomian Indonesia yang terus tumbuh dalam dekade terakhir ini.

Lembaga-lembaga keuangan juga mendukung penuh kemajuan ini, terutama lembaga-lembaga keuangan syariah. Lembaga keuangan syariah, khususnya lembaga keuangan mikro syariah (LKMS) sangat berjasa bagi berkembangnya usaha mikro di Indonesia. Hal ini terjadi memang karena lembaga keuangan syariah di Indonesia selalu berpihak kepada sektor rill dibanding moneter. Karena dalam keuangan syariah, apapun akadnya selalu berujung pada sektor rill. Mayoritas dana dalam lembaga keuangan syariah juga selalu dialokasikan untuk pembiayaan usaha mikro. Lembaga keuangan syariah sendiri pun sudah menjamur dan banyak macamnya. Tidak hanya bank syariah, ada Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).

Dari sisi lembaga keuangan syariah di Indonesia pun juga positif. Perbankan syariah sendiri tumbuh sekitar 40% per tahun. Hal itu menjadikan pertumbuhan lembaga keuangan syariah di Indonesia sebagai yang tercepat dibanding negara lainnya. Dalam islamic finance country index 2011 Indonesia menempati urutan keempat, diatas negara tetangganya yang sekaligus lebih awal dalam mengembangkan keuangan syariah, Malaysia.

Kesempatan dan tantangan bagi kemajuan perekonomian Indonesia ini tidak hanya datang dari dalam, tetapi juga dari luar. Yaitu setelah ACFTA, singkatan dari ASEAN China Free Trade Agreement. ACFTA adalah sebuah kesepakatan khusus antara negara-negara ASEAN dengan Cina, yang mana akan membuka sebuah pasar bebas yang juga akan melibatkan Indonesia. Hal ini tentu sebuah kesempatan emas bagi Indonesia untuk unjuk gigi karena Indonesia juga sedang dalam kemajuan dalam perekonomiannya.

Kesempatan dari luar negeri juga datang dari investasi asing. Indonesia masuk investment grade versi Fitch and moody’s. Ini berarti Indonesia bisa disejajarkan dengan negara-negara maju dalam hal kelayakan investasi. Pemberian grade investment bagi Indonesia ini benar-benar dianggap baik bagi luar negeri. Dukungan dan tawaran investasi luar negeri mulai membanjiri Indonesia. Investasi ditawarkan mulai dari bidang peternakan, otomotif, elektronik hingga panas bumi. Investasi ini banyak berasal dari Asia dan Australia, tetapi tidak menutup kemungkinan juga datang dari Eropa dan Amerika.

Dengan kemajuan di bidang investasi ini, Indonesia menjadi surga para pebisnis. Sumber daya alam yang baik dipertemukan dengan sumber keuangan yang baik menciptakan sebuah peluang emas bagi mereka para pebisnis. Itulah mengapa tidak mengherankan perekonomian Indonesia terus menguat dan mulai mencolok di kawasan Asia belakangan ini. Semua ini bukan berarti bahwa tidak ada halangan sama sekali, masih banyak halangan-halangan, baik teknis maupun non teknis yang menimpa kita hanya bukan itu fokus utama kita sekarang. Fokus kita adalah bagaimana menghargai dan mengambil kesempatan baik ini, bukannya mencari alasan.

Ada sebuah kalimat mutiara,”kesuksesan adalah ketika tekad bertemu dengan kesempatan”. Kata tersebut sangat cocok dengan keadaan ekonomi Indonesia sekarang. Kesempatan dari dalam dan luar telah bermunculan, tinggal keinginan kita saja. Keinginan ini harus lahir dari seluruh warga Indonesia, baik pemerintah maupun rakyat. Dengan semangat gotong-royong mereka, mereka dapat kembali membangun perekonomian mereka, berjuang untuk memerdekakan diri mereka dari jerat-jerat kapitalisme.

Hingga tahun 1945 masyarakat Indonesia selalu meneriakan kata “merdeka” untuk mengumpulkan keberanian sembari memegang senjata, berjuang memerdekakan diri dari konoliasime. Tetapi pasca kedaulatan Indonesia, Indonesia masih terjajah. Terjajah dalam perekonomian. Sekarang inilah waktunya bagi mereka untuk bergotong-royong dalam memerdekakannya. Gotong-royong lagi-lagi diperlukan, bukan lagi berhadapan dengan kolonialisme tetapi dengan kapitalisme.

Leave a Comment