Broken Windows Theory, Etika Islami Dalam Bisnis & Studi Kasus Promotor Big Daddy

Berikut di bawah ini adalah sebuah pembahasan atas kasus yang terjadi cukup lama. Sebuah kasus yang ramai ketika itu yang memunculkan permasalahan kultur di Indonesia. Pembahasan kasus ini mencoba menggunakan teori broken windows dan juga melihatnya dari etika islami dalam bisnis.

Fitrah Manusia, Norma, dan Broken Windows Theory

(maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya, QS. Asy-Syams : 8)

Manusia pada fitrahnya selalu memiliki kecenderungan kepada kebaikan, karena itulah dalam suatu komunitas pasti mempunyai apa yang disebut norma. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “norma”, berarti aturan atau ketentuan yg mengikat warga kelompok dl masyarakat, dipakai sebagai panduan, tatanan, dan pengendali tingkah laku yg sesuai dan berterima. Dari penjelasan tersebut, berarti bahwa bisa menjadi sebuah hukum, sedangkan hukum tujuan dasarnya adalah mengatur tata tertib masyarakat. Ini membuktikan bahwa manusia selalu memiliki kecenderungan menginginkan terciptanya kebaikan di lingkungannya (Komunitasnya).

Selain kebaikan, manusia juga diberikan sifat keburukan di dalam dirinya, sifat ini adalah kebalikan dari sifat pertama tadi. Sifat ini muncul ketika norma di lingkungan tersebut tidak ditegakan atau memang tidak bisa menegakan tata tertib di masyarakat tersebut. Perubahan konteks karena ketidak-idealan norma di daerah tersebut akan merubah sifat buruk dalam manusia tersbut melebihi sifat baik manusia.

Malcolm Gladwell, dalam bukunya, Tipping Point , Menceritakan bagaimana kekuatan konteks dalam merubah sifat seseorang bahkan menciptakan epidemi. Pada dekade 80 sampai dengan awal 90-an, di kota New York terjadi kriminalitas besar-besaran, Kriminalitas sudah menjadi epidemi yang menjangkiti seluruh lapisan masyarakat. Pada waktu itu, polisi sudah tidak mampu menghentikan mereka dan masyarakat tidak berani keluar rumah pada malam hari. Hingga pada suatu hari dipanggilah beberapa pakar hukum untuk menganalisis epidemi tersebut. Mereka menjelaskan epidemi tersebut dengan broken windows theory. Kemudian berdasarkan teori tersebut, mereka mencoba meng-undo beberapa kriminalitas kecil yang pada akhirnya berhasil menghapuskan epidemi terebut dari kota New York seluruhnya secara dramatis. Dalam buku tersebut yang mereka lakukan hanyalah mengecat kembali tembok, mobil atau kendaraan lainnya yang sudah dilukis grafiti dan menindaklanjuti para penumpang kereta api yang tidak membeli tiket.

Etika Bisnis Islam dan Broken Windows Theory
Src : Humusak @ pixabay.com

Apa itu broken windows theory? broken windows theory, menjelaskan di mana jika ada seseorang iseng memecahkan jendela dan kemudian tidak ada yang memedulikannya atau menindaklanjutinya maka dipastikan beberapa kaca lainnya akan pecah. Teori di atas berbicara tentang bagaimana perubahan konteks dapat merubah perilaku seseorang bahkan masyarakat.

Analisis Hubungan Etika secara Umum dengan Pengaruh Konteks

Etika berasal dari kata dalam bahasa yunani yaitu ethos, yaitu kebiasaan atau karakter. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika berarti ilmu tentang apa yg baik dan apa yg buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Dari dua pengertian tersebut bisa kita simpulkan etika merupakan studi sistematis tentang tabiat konsep nilai, baik, buruk, harus, benar, salah dan lain sebagainya dan prinsip-prinsip umum yang membenarkan kita untuk mengaplikasikan atas apa saja/ moralitas seseorang dalam berprilaku.

Sedangkan konteks dalam KBBI mempunyai dua arti, yang pertama yaitu, bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna. Yang kedua berarti, situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian. Kesimpulannya, konteks berarti situasi dan kondisi yang menjelaskan suatu makna dari kejadian atau pernyataan.

Berdasarkan dari definisinya, Etika bisa dihubungkan dengan Konteks dengan hubungan kausalitas. Etika sebagaimana dijelaskan diatas amat berhubungan dengan kasus epidemi kriminalitas di New York. Pada waktu itu etika benar-benar sudah tidak dipedulikan. Ketika Etika diremehkan itulah terjadi perubahan konteks terhadap etika itu sendiri, hingga kemudian tindakan kriminal naik drastis karena etika sudah tidak dianggap lagi. Ketika para penegak hukum mencoba kembali meneggakan etika baik, yaitu ketika mereka melarang lagi orang-orang melukis ditembok dan menghukum penumpang kereta api ilegal, angka kriminalitas turun drastis. Disini dapat kita simpulkan bahwa etika dapat disebut juga sebagai kontrol sosial. Hubungan kausalitas antara etika dan konteks adalah timbal balik, dimana etika kita terhadap sesuatu bisa merubah konteks dan konteks juga bisa merubah etika kita terhadap sesuatu.

Hubungan Etika dengan Bisnis

Bisnis merupakan kegiatan yang melibatkan dua orang atau lebih, sehingga diperlukan etika. Etika dalam berbisnis diperlukan untuk menjaga kelancaran-kelancaran dalam transaksi bisnis. Bahkan karena sangat pentingnya etika, sebagian etika dijadikan Undang-Undang hukum suatu negara ataupun Internasional untuk melindungi para pelaku bisnis.

Pelanggaran terhadap etika umum yang berlaku di suatu tempat akan mengganggu tata tertib di tempat tersebut. Begitu juga dalam bisnis, pelanggaran etika akan membuat transaksi bisnis terganggu yang mana biasanya akan muncul kerugian baik di salah satu pihak maupun keduanya, yang mana jika sudah menyentuh skala besar akan mengganggu perekenomian suatu negara.

Prinsip Perubahan Konteks dengan Etika berbisnis

Karena Etika juga berlaku bagi kegiatan berbisnis maka, prinsip perubahan konteks pun berlaku juga pada bisnis. Di sini penulis ingin mengambil dua perumpamaan untuk menjelaskan hubungan perubahan konteks dengan bisnis. Pertama, contoh dengan masalah di kontraknya, dalam hal ini tentang bunga (interest). Kedua, contoh dengan masalah di objeknya, dalam hal ini tentang rokok.

Masalah di kontraknya

Contoh pertama adalah bisnis dengan masalah di kontraknya, yaitu tentang syarat bunga atau yang dalam Islam dikenal dengan riba. Riba berarti suatu tambahan pokok dari suatu harta tanpa adanya pengganti yang sepadan. Di zaman sekarang ini riba sudah begitu biasa, mulai dari sekedar utang teman sampai utang negara, semuanya tidak terlepas dari riba. Riba tentu tidak begitu saja menjadi kebiasaan seperti sekarang . Hal ini dikarenakan manusia pada dasarnya mengerti bahwa riba itu jelek. Riba, yang pertama akan membuat si pengutang merugi, yang kedua akan membuat perekonomian tidak stabil.

Riba pada awalnya sejarahnya hanya terjadi dalam kegiatan utang-mengutang di masyarakat, tidak separah sekarang. Salah satu kemungkinan pemicunya adalah ketika ramainya lembaga bisnis yang disebut bank bermunculan. Pada awalnya bank hanyalah sebagai tempat penitipan, tetapi kemudian bank menggunakan harta titipan tersebut untuk dipinjamkan kepada nasabah dengan syarat pengembalian lebih. Dari situlah, ketika bunga/riba sudah menjadi unsur yang lumrah dalam bisnis lembaga keuangan. Masyarakat maupun pemerintah-pun tidak segan lagi dengan hal tersebut. Di situlah bagaimana perubahan konteks dapat mempengaruhi etika dalam berbisnis.

Masalah di objeknya

Merokok adalah suatu fenomena yang begitu besar di masyarakat kita. Pengetahuan tentang bagaimana r0kok merugikan diri sendiri bahkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh tidak perlu dijelaskan lagi, bahkan kepada perokok itu sendiri. Hal itu dikarenakan pengetahuan tersebut sudah begitu umum. Fakta tersebut seakan justru menafikan prinsip perubahan konteks sendiri. Informasi tentang dampak mer0kok begitu gencar disuarakan, bahkan dibungkus r0kok itu sendiri, tetapi anehnya hal itu tidak dapat menghentikan para per0kok untuk merokok.

Fenomena r0kok tidaklah menafikan prinsip perubahan konteks. Memang seakan-akan kita sudah berusaha untuk merubah konteks tentang mer0kok, tetapi usaha-usaha untuk mempertahankan konteks r0kok yang sudah ada pun tidak kalah juga. Kira-kira ada dua usaha besar dalam mempertahan konteks r0kok. Pertama, dari perusahaan r0kok sendiri, mereka begitu gencar mengiklankan r0kok terutama ke anak muda. Kedua, dari para perok0k sendiri, mulai dari orang tua yang mencontohkan ke anaknya, sesorang yang mengajak temannya, dan komunitas merok0k itu sendiri. Oleh karena itu permasalahan etika dari r0kok sudah begitu rumit. Secara etika bisnis ini benar-benar sudah membuat kerugian di masyarakat yang akan begitu susah untuk di-undo.

Etika Bisnis Islam

Dalam Islam, seluruh aspek kehidupan manusia tidak lepas dari aturan syariat baik hal kecil maupun hal besar. Hal ini harus diketahui bahwa salah satu tujuan dari syariat islam adalah untuk menciptakan tata-tertib di masyarakat, mirip dengan tujuan dari norma dan hukum menurut pengertian di atas. Bedanya syariat islam lebih komprehensif dan terbukti efektif seperti yang dibuktikan oleh peradaban islam itu sendiri.

Etika dalam islam tidak pernah terlepas dari kehidupan masyarakat, etika tidak terpisah dengan bisnis, etika tidak terpisah dengan negara, tidak terpisah dengan politik. Islam menentang keras paham sekularisme.

Adapun prinsip-prinsip dasar bisnis islam, yaitu:

  1. Tauhid (التوحيد)
  2. Justice (العدالة)
  3. Free Will (الحرية)
  4. Responsibility (المسؤولية)
  5. Kindness or Benevolence (الإحسان)
  6. Halal and Haram Earning (الحلال والحرام)

Studi Kasus : Bisnis Promotor Artis Luar Negeri, Big Daddy

(Berikut adalah laporan tentang kasus Big Daddy, yang dikompilasi dari Majalah Detik edisi 28 mei – 3 Juni 2012)

Sekilas Kontroversi Big Daddy

Berdiri sejak 2010 promotor musik Big Daddy memang tergolong agresif. Betapa tidak, se-tahun setelah berdiri sejumlah penyanyi dan grup musik ternama dari luar dia datangkan. Linkin Park, Richard Marx, Roxette, dan Simple Plan sebagai contohnya.

Namun kini promotor yang beralamat di gedung Senayan City itu, tersandung masalah, karena Lady Gaga yang akan mereka datangkan  ke Jakarta diprotes sejumlah kalangan.Selain figur sang penyanyi yang kontroversial, protes juga terjadi karena Big

Daddy melakukan beberapa kecerobohan. Kecerobohan pertama yakni tidak melakukan prosedur perizinan yang benar. “Kalau mereka profesional harusnya sudah tahu mana yang harus diurus terlebih dahulu. Bukan membuat semua ini jadi kontroversial,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta, Arie Budhiman kepada majalah detik.

Selain sembrono soal perizinan, Big Daddy juga lalai terhadap norma. Bayangkan, promotor malah memberikan keringanan bagi pelajar termasuk pelajar SD yang ingin membeli tiket pelantun ‘Judas’ itu. Padahal Gaga dikenal suka mengenakan kostum yang ser*n0k dan menampilkan aksi panggung yang vul94r. Tidak layak disaksikan anak di bawah umur.

Dilarang dalam Keuangan Syariah

Jika ternyata tiket dijual ke anak-anak di bawah usia 18 tahun, promotor melakukan pelanggaran. Sebab dalam UU Perlindungan Anak, hak mendapat informasi yang sehat, termasuk berhak mendapat perlindungan dari informasi yang tidak sehat. Kalau informasi atau tontonan yang diberikan mengarah pada hal-hal yang er0t1s dan sebagainya, maka sebaiknya tidak untuk anak-anak.

Selain terlalu bernafsu dalam menjual tiket, Big Daddy juga tidak cermat memperhatikan kondisi budaya masyarakat sehingga menimbulkan kontroversi yang berkepanjangan. Padahal banyak penyanyi atau musisi luar yang laku dijual di Indonesia tanpa mengundang kontroversi, menurut Oeg Oen Log, pemerhati artis internasional.

Kontroversinya Lady Gaga

Penolakan terhadap Lady Gaga tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Filipina dan Korea Selatan.

Perempuan yang tak segan menunjukkan lekuk tu8uhnya ini, ditahbiskan sebagai ikon p0rn09r4fi dan mempromosikan h0m0s3ksu41. Tur keliling dunianya yang bertajuk “B0rn Th1s W4y B411”, menuai antipati di sejumlah negara Asia.

Tak hanya menghujat agama, lagu-lagu Gaga juga sarat akan pemujaan terhadap setan. Uskup Agung Ramon Arguelles sangat mengkhawatirkan pengaruh Gaga terhadap generasi muda. “Penggemarnya dalam bahaya jadi pengikut ajaran setan,” ujarnya.

Para penentang juga tidak bertindak anarki, meski Gaga tampil penuh kontroversi bahkan cenderung provokatif. “Saya bukan makhluk dari pemerintahan kalian, Manila,” ujarnya di hadapan ribuan penggemarnya yang berdandan ala sang idola.

Gaga yang malam itu mengenakan busana warna kuning, tak meninggalkan lagu ‘kebangsaan’ kaum g4y, B0rn This W4y. Termasuk pakaian m1nim yang menjadi ciri khasnya.

Pemerintah lokal yang sudah terlanjur memberi izin, menyerahkan kepada penonton untuk mengawasi pelanggaran terhadap norma kesusila4n, publikasi ca8ul serta pertunjukan tidak sen0n0h. Aparat keamanan cukup antisipatif, dengan menambah jumlah personel sehingga cukup untuk mengawal konser. Meski tampil, Gaga harus bersiap menghadapi gugatan hukum. Kelompok konservatif menggunakan bukti rekaman video untuk menuntut Gaga karena telah mempertontonkan ketid4ksen0n0han dengan ancaman penjara enam tahun.

Analisis Kasus

Sebelum Menganalisis Kasus ini, pertama-tama penulis mencoba menyimpulkan poin-poin dari kasus di atas untuk dibahas lebih lanjut, yaitu:

Big Daddy menjual tiket kepada anak dibawah umur.

Big Daddy (sengaja) tidak memperhatikan kondisi budaya masyarakat.

Lady Gaga adalah sosok artis yang penuh dari kontroversi mulai, dari ketid4k-sen0n0h4nnya baik dari busana maupun aksinya, idealismenya, dan prilaku ateis maupun h0m0s3ksu4l.

Untuk Menganalisis kasus ini penulis mencoba memperikarakan dampak yang akan terjadi jika konser tersebut terlaksana berdasarkan teori dan fakta yang tersedia :

Naiknya popularitas Lady Gaga di kalangan anak di bawah umur

Pada umumnya pikiran seorang anak kecil belum sempurna, dalam artian belum bisa begitu membedakan antara hal baik dan buruk. padahal berdasarkan penelitian sosiologi, Prilaku imitasi lebih sering dipraktekan di kalangan anak-anak. Selain itu anak-anak lebih cepat menyebarkan isi pikirannya daripada orang dewasa, hal ini tentu akan menjadi ancaman bagi generasi anak-anak dilihat dari betapa kontroroversialnya.

Terganggunya stabilitas keamanan dan kemungkinan rusaknya budaya lokal

Jauh Sebelum hari-h banyak protes dan demonstrai dari berbagai kalangan, terutama umat islam. Mereka mengancam bahwa mereka tidak bisa menjamin keamanan jika konser tersebut terlaksana. Bahkan disebutkan bahwa pihak dari FPI telah membeli sebanyak 150 tiket untuk konser tersebut.

Selain keamanan, Norma dan Budaya lokal bisa terganggu. Penerimaan konser Lady Gaga di Indonesia bisa menjadi simbol bahwa, Indonesia bersikap “selamat datang” kepada budaya dan ideologi yang dibawa lady gaga, padahal itu sangat bertentangan dengan etika Islam. Simbol tersebut dapat memunculkan perubahan konteks, yang berdasarkan broken windows theory akan mengakibatkan bertambah-parahnya dampak tersebut.

Pandangan dari sudut pandang prinsip etika bisnis Islam

Dari Prinsip-prinsip dasar Bisnis Islam, Penulis bisa mengambil beberapa poin yaitu :

Promotor Big Daddy memisahkan antara etika dengan bisnis, hal inilah kemudian yang menjadi kerugian tersendiri bagi mereka.

Ketidakpatuhan terhadap etika islam bisa menjadikan sebuah kegiatan bisnis mengancam masyarakat, baik dari segi keuangan ataupun moral.

Perbuatan tersebut mencerminkan ketidak-patuhan terhadap prinsip responsibility etika bisnis islam.

Pendapatan yang didapatkan dari kegiatan bisnis seperti itu adalah haram, dilihat dari mudharat yang ditimbulkannya

Opini Penulis sekaligus penutup

Konteks amatlah penting, karena dengannya lah manusia menilai segala sesuatu, penilaian itu akan berubah seiring berubahnya konteks tersebut. Kemudian dengan nilai itulah manusia akan mengambil sebuah tindakan. Etika dalam hal ini menjaga konteks pada tempatnya, yang baik untuk yang baik dan yang buruk untuk yang buruk. Karena ketika hal buruk mempunyai konteks yang baik, maka otomatis, hal buruk akan merajalela, Sifat Keburukan Manusia lebih terlihat daripada kebaikannya. Tetapi sebenarnya, dalam islam itu semua sudah diatur. Akhlaq dalam islam secara tidak langsung memberikan konteks pada tempatnya. Selain itu prinsip adil dalam Etika Bisnis Islam juga menuntut kita untuk menaruh sesuatu pada tempatnya dan menghindari sebaliknya (dzalim). Oleh karena itu prinsip Etika Islami, terutama dalam bisnis, layak bahkan patut untuk ditegakan demi menjadi social control dan menjaga keadilan.

Daftar Pustaka :

Al-Qur’an

Majalah Detik edisi 28 mei – 3 Juni 2012

The Tipping Point, karya Malcolm Gladwell

Slide PPT Mata Kuliah Etika Bisnis Islam

Leave a Comment