Analisis Rasio Keuangan dan Contohnya

Analisis Rasio Keuangan adalah hal penting dalam mengukur kinerja bisnis kita. Penting juga dalam mengukur tingkat kesehatan bisnis kita. Di bawah ini kita akan membahas analisis rasio keuangan dengan contoh perbandingan 2 tahun. Adapun rasio keuangan yang dibahas adalah:  Current Ratio, Cash Ratio, Quick Ratio, DER, Long Term Leverage, Short Term Leverage, Asset Turnover, Inventory Turnover, Account Payable Turnover, Gross Profit Margin, Net Profit Margin, Return on Investment, Return on Equity.

Analisis Rasio Keuangan

Contoh Soal:

Analisis Rasio Keuangan
Analisis Rasio Keuangan

Cara Membaca Tabel Rasio di Atas

Current Ratio

bisa dilihat kondisi perusahaan masih terbilang likuid karena hasil ratio masih diatas satu, tetapi pada tahun kedua mengalami penurunan karena mengalami peningkatan kewajiban dengan kata lain perusahaan berhutang lebih banyak dari tahun sebelumnya. tetapi kondisi masih aman karena masih diatas 1.

Cash Ratio

Terjadi peningkatan 0.05 point dari tahun sebelumnya dimana pada tahun I 1 kewajiban dijamin dengan 0.011 uang tunai menjadi 0.016 pada perusahaan

Quick Ratio

Terjadi penurunan saat persediaan dikeluarkan yang tadinya pada tahun I 1 kewajiban dijamin dengan 0.16 rupiah menjadi 0.15 rupiah ini menunjukan penjualan perusahaan tidak dapat mengimbangi produksi yang terjadi.

DER

pada tahun I PT GFI lebih banyak menggunakan dana kreditor untuk perusahaannya dibangdingkan dengan modal sendiri, tetapi pada tahun II DER menurun menandakan bahwa perusahaan memperkuat modal sendirinya dimana DER turun 2,5 point seperti yang ditunjukan pada laporan keuangan pada tahun I modal saham GFI sebesar 3420 menjadi 14500

Long and Short Term Leverage

bisa dilihat pada tahun I hutang jangka pendek pada perusahan GFI lebih banyak, ini menandakan resiko yang dihadapi perusahaan lebih besar karena perusahaan harus mempersiapkan dana untuk membayar utang-utang yang akan segera jatuh tempo. Dan dilihat dari tahun berikutnya utang jangka pendek dan panjang perusahaan mengecil menjadi 0.2 dan 0.8 menandakan perusahaan baik2 saja dalam memenej utangnya.

Asset Turnover

asset turnover mengalami peningkatan menandakan perusahaan dapat mengatur aktiva yang ada menjadi penjualan, tetapi perusahaan terlalu banyak persedianannya sehingga ratio yang ada tidak mencapai 1

Inventory Turnover

dilihat dari perputaran persediannya, perusahaan Fgi ini terbilang cukup lama, karena pada th I perputarannya mencapai 1 tahun lebih, dan pada th I mengalami penuurn sekitar 15 hari. Pada analisis vertikal dapat kita lihat bahwa persentase persedian cukup signifikan mencapai 44,54 persen dengan rasio 395 hari ( satu tahun tiga bulan) jika perusahaan memiliki kebijakan untuk memelihara persediaan pada tingkat 1 tahun lebih maka tidak jadi masalah tetapi jika dibawah 1 tahun, FGI mengalami masalah, ada kemungkinan perusahaan harus menghapuskan pencatatan persediaan dari pembukuan. dan pada tahun kedua pun penurunan rasionya tidak cukup signifikan

Account Payable Turnover

jika dilihat pada Th I total kewajiban lebih besar dari pada total modal sendiri menandakan bahwa perusahaan mengedepankan hutang untuk membiayai perusahaannya. Karena 78 persen hutang yang dimiliki oleh perusahaan. Jika perusahaan tida sanggup bayar dengan tepat waktu dan lancar, ada kemungkinan pemasok akan menghentikan pasokan bahannya untuk FGI. dan jika pemasok minta tunai pembayarannya maka perusahaan harus menyediakan 78 persen dana tunai tsb. dengan perputaran yang mencapai 200 hari masih terbilang besar, tetapi selama masih dibawah 1 tahun maka perusahaan tsb masih aman, karena pinjaman jangka pendek itu maksimal 1 tahun. dan pada TH I perusahaan dapat memperkecil hutangnya terlihat bahwa persentasi antara kewajiban dengan modal sendirinya hampir sama. berada di angka 49-50 persen ini menandakan bahwa perusahaan dapat mengatasi utangnya, dan perputarannya semakin lebih cepat menjadi hanya 123 hari. lebih cepat 2 bulan dari tahun sebelumnya.

Gross Profit Margin

Dari hasil rasio tersebut dihasilkan bahwa perusahaan berhasil meningkatkan laba kotor penjualan dimana pada tahun I setiap 1 penjualan menghasilkan 28.8 perses gross profit menjadi 29.5 persen

Nett Profit Margin

dan pada rasio NPM ini juga perusahaan mengalami peningkatan yang pada tahun setiap penjualan menghasilkan 7.4 persen laba bersih menjadi 7.8 persen laba bersih walaupun tidak terlalu signifikan naiknya. Karena masih banyaknya persedian dagang,

ROI

ROI GFI juga mengalami penginkatan 0.08 point menandakan setiap 1 modal yang ditanam menghasilkan 0.04 laba pada tahun I dan 0.05 pada tahun II

ROE

Sedangkan ROE mengalami penurnan yang menandakan bahwa perusahaan tidak terlalu bagus dalam mengatur aktivanya atau perusahaan baru saja menambah modalnya, ROE pada suatu perusahaan minimal harus 20 persen. Pada tahun I perusahaan bisa dibilang mencapai 20 persen atau 19.5 persen tingkat pengembalian tetapi pada tahun II mengalami penurnan yang cukup signifikan sebanyak 9 persen menjadikan tingkat pengembalian pada tahun II 10.6 persen. ini menandakan bahwa perusahaan tidak dapat mengubah asset yang dimiliki untuk merubah penjualan yang baik, yang dimana penjualan akan meningkatkan equitasnya, dikarenakan perusahaan baru menambahkan modal saham ke perusahaan.


Penyusun: DimasAbdulHarris

Leave a Comment